Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Februari 2013

Wisata Unik dan Aneh : Museum Sisa Hartaku "Yogyakarta"


13608963071918970070
menikmati keindahan merapi dan jejak-jejaknya (dok.pri)
Bertempat tinggal di lereng gunung yang masih aktif, seperti gunung Merapi yang terletak di Sleman, Yogyakarta, memang dilematis. Di satu sisi, lereng gunung Merapi adalah daerah subur yang mampu memberikan kehidupan bagi masyarakat. Di sisi lain, bahaya senantiasa mengancam. Gunung Merapi terkenal dengan pengulangan letusan setiap 4 tahun sekali.
Erupsi yang terjadi di gunung Merapi selalu menyisakan jejak-jejak peninggalan. Tak mengherankan, tidak lama setelah erupsi, banyak orang berdatangan untuk menyaksikan situasi dan kondisi pasca erupsi. Situasi seperti ini mendatangkan keuntungan tersendiri bagi masyarakat. Kreatifitas masyarakat akan mendatangkan keuntungan. Ada yang tergerak untuk menyediakan sarana transportasi seperti jeep, motor trail, atau bahkan jasa ojek. Ada yang berjualan makanan dan minuman. Ada yang berjualan souvenir khas merapi.
1360896437320941027
sebuah rumah yang terkena keganasan lahar panas dan wedus gembel ini telah disulap menjadi sebuah museum. di sini aneka peninggalan sisa erupsi merapi dipajang dan dipamerkan kepada para pengunjung (dok.pri)
Dari sekian banyak kreatifitas itu, ada sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tempat itu bernama Museum Sisa Hartaku. Adalah mbah Wati, 65 tahun. Beliaulah yang memiliki areal rumah yang hancur diterjang ganasnya lahar panas dan wedus gembel pada erupsi 2010 lalu. Kedukaan kehilangan harta benda tak membuatnya larut dalam kedukaan. Hancurnya rumah tinggal justru memunculkan ide untuk menjadikan rumahnya sebagai sebuah harta berharga. Jadilah sebuah museum yang unik. Melalui kreatifitas mbah Wati, sisa-sisa erupsi disulap menjadi sebuah tempat yang menunjukkan kepada para pengunjung efek erupsi Merapi. Sisa-sisa keganasan erupsi ditata sedemikian rupa. Pengunjung dapat berkeliling dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri berbagai peninggalan yang masih berbentuk di rumah yang terletak di pinggir jalan itu.

Ketika berkeliling menggunakan jeep atau motor trail, kita akan bertemu dengan satu-satunya rumah yang sederhana. Di depan rumah terdapat tulisan penunjuk: Musium Sisa Hartaku. Inilah rumah satu-satunya di lokasi itu. Sementara penduduk yang lain sudah direlokasi, mbah Wati tetap setia bertempat tinggal di rumah itu sembari menjaga sisa-sisa hartanya.

Di depan rumah, terpasang kerangka sapi, baik yang masih utuh maupun sudah terpisah-pisah menjadi beberapa bagian. Ada 4 ekor sapi yang miliki mbah Wati. Semuanya mati dan tinggal tulang belulangnya. Kerangka sapi itu disusun dengan apik olehnya. Sedikit masuk, kita akan menjumpai kerangka motor. Kerangka motor ini ditempatkan sedikit agak lebih tinggi dibandingkan kerangka sapi yang masih utuh.
1360896637192648826
seorang pengunjung sedang berpose di samping rangka motor (dok.pri)
12.04.42 itulah kisaran angka yang terdapat pada sebuah jam dinding. Itulah saksi sejarah datangnya bencana di rumah mbah Wati. Jam dinding yang telah meleleh dan jarum-jarum penunjuknya menjadi satu itu menjadi penanda yang mahal harganya. Jam dinding itu telah menjadi pengingat dan penanda takterbantahkan.
13608967131736336026
peninggalan berharga berupa jam dinding yang menunjukkan kapan persisnya lahar panas menerjang rumah ini (dok.pri)
Selain itu, masih banyak peninggalan lain. Berbagai perabotan rumah tangga dipajang. Ada aneka botol yang ditata berjajar. Uniknya, botol-botol itu tidak pecah. Botol-botol itu hanya meliuk menjadi takberaturan. Ada juga peninggalan berupa gamelan yang telah rusak.
Kiranya, wisata unik ini tidak hanya untuk dinikmati. Wisata unik hasil kreatifitas keluarga mbah Wati ini dapat menjadi museum penelitian bagi anak-anak sekolah. Mereka bisa belajar banyak hal di tempat ini. Wisata bukan hanya untuk bersenang-senang menikmati pemandangan alam. Di tempat ini, anak-anak sekolah bisa juga belajar tetang Merapi, efek erupsi, dan masih banyak lagi.
1360896835479795841
yang masih tersisa (dok.pri)
Anda tertarik? Silahkan datang ke Museum Sisa Hartaku. Taklupa, setelah puas menikmati keajaiban alam peningggalan erupsi Merapi di tempat ini masukkan sumbangan Anda di kotak yang telah disediakan. Kotak itu terletak di dekat tiang di teras rumah.
13608969561119548193
yang masih tersisa (dok.pri)

Senin, 04 Februari 2013

Wisata Yogyakarta : Daftar Pantai-Pantai di Gunungkidul



Berikut Daftar Pantai-Pantai di Gunungkidul, Yogyakarta ( update februari  2013 ) : 

1. Watugupit : Giricahyo , Purwosari
2. Klampok : Girijati, Purwosari
3. Parangedong : Girijati, Purwosari
4. Karangtelu : Girikarto, Panggang
5. Kesirat : Girikarto, Panggang
6. Gesing : Girikarto, Panggang
7. Grigak : Giriwungu, Panggang
8. Nampu : Giriwungu, Panggang
9. Ngunggah : Giriwungu, Panggang
 Pantai gunungkidul, pantai jogjakarta, wisata jogja

Gesing
10. Langkap : Karambilsawit, Saptosari
11. Nguyahan : Kanigoro, Saptosari

 Pantai gunungkidul, pantai jogjakarta, wisata jogja
Nguyahan
12. Ngobaran : Kanigoro, Saptosari
 Pantai gunungkidul, pantai jogjakarta, wisata jogja

Ngobaran
13. Torohudan : Kanigoro, Saptosari
14. Butuh : Karambilsawit, Saptosari
15. Ngrenehan : Kanigoro, Saptosari

 Pantai gunungkidul, pantai jogjakarta, wisata jogja

Ngrenehan
16. Parangracuk : Kemadang, Tanjungsari
17. Baron : Kemadang, Tanjungsari
18. Kukup : Kemadang, Tanjungsari
19. Sepanjang : Kemadang, Tanjungsari
20. Drini : Banjarejo, Tanjungsari
21. Krakal : Ngestirejo, Tanjungsari
22. Slili : Sidoharjo, Tepus

 Pantai gunungkidul, pantai jogjakarta, wisata jogja

Pok Tunggal
23. Pok Tunggal : Tepus, Tepus 
24. Ngandong : Sidoharjo, Tepus
25. Sundak : Sidoharjo, Tepus
26. Siung : Purwodadi, Tepus

 Pantai gunungkidul, pantai jogjakarta, wisata jogja

Siung
27. Banyunibo : Purwodadi, Tepus
28. Watutogok : Purwodadi, Tepus
29. Sawahan : Purwodadi, Tepus
30. Pakundon : Purwodadi, Tepus
31. Muncar : Purwodadi, Tepus
32. Songlibeg : Purwodadi, Tepus
33. Lambor : Purwodadi, Tepus
34. Ngondo : Purwodadi, Tepus
35. Jogan : Purwodadi, Tepus
 Pantai gunungkidul, pantai jogjakarta, wisata jogja

Jogan
36. Busung : Purwodadi, Tepus
37. Timang : Purwodadi, Tepus
38. Jagang Kulon : Purwodadi, Tepus
39. Weru : Purwodadi, Tepus
40. Kelosirat : Purwodadi, Tepus
41. Ngetun : Purwodadi, Tepus 
42. Klumpit : Purwodadi, Tepus
43. Nguluran : Purwodadi, Tepus
44. Ngungap : Purwodadi, Tepus
45. Wediombo : Jepitu, Girisubo
46. Sadeng : Pucung, Girisubo
47. Krokoh : Songbanyu, Girisubo
48. Pulang Sawal (Cafe Indrayanti) : Sidoharjo, Tepus
Pantai gunungkidul, pantai jogjakarta, wisata jogja

Pulangsawal
49. Somandeng : Sidoharjo, Tepus
50. Seruni : Tepus, Tepus 
51. Jungwok : Jepitu, Girisubo 
52. Botorubuh : Jepitu, Girisubo
53. Greweng : Jepitu, Girisubo
54. Sedahan : Jepitu, Girisubo
Pantai gunungkidul, pantai jogjakarta, wisata jogja

Sedahan
 55. Watukodok : Kemadang, Tanjungsari

Source : heryfosil.blogspot.com

Jumat, 01 Februari 2013

Kesenian Tradisional Menjadi Daya Tarik Desa Wisata



Kesenian tradisional yang hidup di masyarakat bisa menjadi daya tarik desa wisata yang jumlahnya cukup banyak di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Kesenian tradisional yang sifatnya lokal yang berkembang di pedesaan memiliki potensi menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mengunjungi desa wisata di daerah ini. Untuk itu, keberadaaannya perlu dipertahankan dan dikembangkan." 

Keberadaan kesenian tradisional jika digarap dengan baik dapat menjadi atraksi wisata yang menarik wisatawan berkunjung ke desa wisata. Desa wisata dengan sajian atraksi kesenian akan membuat wisatawan memiliki kenangan setelah mereka pulang karena terkesan dengan sajian atraksi tersebut.

Oleh karena itu, perlu upaya mengembangkan serta menghidupkan kesenian tradisional sebagai aset wisata agar sektor pariwisata di daerah bisa berkembang dengan meningkatnya kunjungan wisatawan.
"Dengan menampilkan atraksi kesenian seni lokal berarti membantu kelangsungan hidup kegiatan berkesenian di daerah itu. Bahkan pelaku seni tersebut dapat memperoleh tambahan penghasilan karena setiap penampilan mereka akan dibayar." 

Perlu keseriusan untuk mengembangkan dan melestarikan kegiatan seni dan budaya setempat agar mampu menjadi atraksi wisata, karena atraksi seni budaya memiliki hubungan erat dengan parwisata. "Jika kesenian berkembang, tentu akan menjadi aset bagi obyek wisata setempat dan diharapkan sajian atraksi seni budaya lokal tersebut menjadikan desa wisata lebih hidup dan diminati wisatawan." 
(source : backpacker akhir pekan)

Senin, 21 Januari 2013

Jogja istimewa di bulan Januari



Kereta Kencana Kraton Yogyakarta
Kereta Kencana yang ditampilkan pada acara Pameran Kraton Yogyakarta di Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Januari adalah bulan yang tepat untuk mengunjungi Yogyakarta. Sebab, di bulan ini sedang berlangsung pameran besar koleksi  Keraton Nyayogyakarta dan Pameran Arsip “Jogja Istimewa, Istimewanya Jogja” di kompleks Keraton Yogyakarta.
Pameran Keraton Yogyakarta menampilkan sejumlah koleksi keraton, termasuk alat transportasi berupa Kereta Kencana yang termahsyur. kereta-kereta ini berusia tua, bahkan ada yang hingga ratusan tahun. Dulunya, Sri Sultan menggunakan Kereta Kencana untuk berbagai keperluan, baik kepentingan pribadi maupun kepentingan keraton.
Mobil dinas Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Mobil dinas Sri Sultan Hamengkubuwono IX sewaktu menjabat sebagai Wakil Presiden RI.
Total kereta kencana yang dimiliki oleh pikah keraton sebanyak 23 buah, namun tak seluruhnya dipamerkan di sini. Sisanya terparkir rapi di Museum Kereta Keraton yang berada di kompleks Ndalem Keraton Nyayogyakarta. Sebelum diresmikan sebagai museum, dulunya tempat ini adalah garasi bagi kereta-kereta tersebut.
Selain Kereta Kencana, turut ditampilkan pula mobil dinas yang dulu digunakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX sewaktu maish menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Pameran Keraton Yogyakarta berlangsung hingga 24 Januari 2013.
Keraton Ngayogyakarto berlokasi di  Jalan Rotowijayan 1, dan buka pada hari Sabtu hingga Kamis pukul 08:00 – 14:00 WIB, dan hari Jumat pukul 08:00 – 12:00.
Selain pameran koleksi keraton, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga menggelar pameran arsip yang berlangsung pada 12 – 24 Januari 2013 di Bale Angun-Angun Sitihinggil Keraton Yogyakarta.
Selain itu, turut ditampilkan pula foto-foto hasil reproduksi arsip BPAD DIY, Arsip Nasional Republik Indonesia, koleksi Keraton Ngayogyakarta, dan Puro Pakualaman.
Naskah Perjanjian Giyanti
Naskah Perjanjian Giyanti (1755)
Pameran arsip tahun ini bertajuk “Jogja Istimewa, Istimewanya Jogja”. Berbagai arsip sejarah dan Budaya Yogyakarta dalam bentuk foto, tekstual, dan audiovisual dipamerkan di sini.
Salah satunya merupakan dokumentasi tekstual geopolitik Perjanjian Giyanti yang mengatur tentang pembagian Mataram menjadi wilayah Kasultanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian yang terdiri dari 9 pasal dan satu bagian penutup ini merupakan cikal bakal lahirnya Yogyakarta.
Arsip perjuangan masyarakat demi mendapatkan pengesahan atas status keistimewaan Yogyakarta juga turut ditampilkan dalam pameran arsip tahun ini.
Pameran dibuka setiap hari pada pukul 09:00 – 13:00, dan pukul 17:30 – 22:00. Pengunjung dikenakan bea masuk sebesar Rp 5000 saja.
Jika Anda peminat sejarah dan budaya, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta, Januari adalah bulan yang tepat untuk menyambangi kota gudeg ini. 

Kamis, 03 Januari 2013

MUSEUM GUNUNG MERAPI ( edukasi dan konservasi)


gunung merapi, cincin api, wisata, museum, indonesia, berapi, yogyakarta, jogja, sleman

Indonesia merupakan negara yang berada di kawasan cincin api yang memiliki lebih dari 450 gunung berapi di mana terdapat 129 gunung berstatus aktif dan tidak menutup kemungkinan Gunung berapi yang berstatus tidak aktif (mati) akan berubah statusnya menjadi aktif ( misal: Sindoro). Jumlah tersebut hampir  13 persen dari total gunung api aktif di dunia. Oleh karena itu, diperlukan sebuah upaya mitigasi untuk menekan jumlah korban jiwa ketika bencana melanda. Dan upaya mitigasi bencana tersebut menjadi tangging jawab kita bersama.


Museum Gunung Merapi didirikan  sebagai wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunung api, gempa bumi, dan bencana alam lainnya. Juga sebagai sebuah wahana wisata lokal baru yang berada  dikawasan lereng Merapi,


Museum ini terletak di Dusun Banteng, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Bangunan museum yang berbentuk limasan segitiga tidak beraturan dibangun sesuai filosofi bangunan Jawa (Yogyakarta) serta wilayah Gunung Merapi yang berwujud kombinasi teknologi dan budaya yang disesuaikan dengan aturan adat (Pakem) mengikuti garis lurus,  Terdiri dari  gunung Merapi, Tugu Yogyakarta, Kraton Yogyakarta serta laut selatan.



gunung merapi, cincin api, wisata, museum, indonesia, berapi, yogyakarta, jogja, sleman


Memasuki pintu masuk, pengunjung akan dihadapkan pada  sebuah miniature Gunung Merapi berukuran besar yang terus menerus mengeluarkan asap dan memuntahkan magma. Tak ketinggalan pula terdengar bunyi gemuruh yang menggelegar dari gunung tersebut. Selain itu, terdapat tiga tombol yang masing-masing bertuliskantahun 1969, 1994, dan 2006. Jika Anda memencet salah satu tombol, maka secara otomatis sebaran aliran magma akan berubah sesuai dengan kejadian yang terjadi pada tahun tersebut.



gunung merapi, cincin api, wisata, museum, indonesia, berapi, yogyakarta, jogja, sleman




Selanjutnya memasuki  zona dunia gunung api. Di zona ini terdapat berbagai foto dokumentasi dan alat peraga tentang fenomena kegunungapian yang ada di seluruh dunia. Foto-foto dan alat peraga tersebut disajikan lengkap dengan keterangan dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 



gunung merapi, cincin api, wisata, museum, indonesia, berapi, yogyakarta, jogja, sleman



gunung merapi, cincin api, wisata, museum, indonesia, berapi, yogyakarta, jogja, sleman


Selanjutnya  menuju zona khusus Gunung Merapi. Menyajikan informasi  eksklusif tentang Gunung Merapi. Mulai dari fenomena pertumbuhan kubah Gunung Merapi, mitos seputar Gunung Merapi, pos pengamatan Gunung Merapi dari era Belanda hingga era modern, dan masih banyak lagi. Semua disajikan dalam gambar dan foto yang menarik. Tak hanya itu, di zonatersebut juga ditunjukkan bagaimana caranya menyelamatkan diri dari ancaman bahaya gunung api yang meletus.



Dan satu hal lagi yang semakin menarik, bahwa setelah erupsi merapi tahun 2010 lalu, Museum merapi mempunyai tambahan koleksi baru, yaitu 2 (dua) buku tamu mbah Maridjan , dan kopian layang kekancingan dari pihak Kraton kepada Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi. 

Bahkan yang belum banyak diketahui bahwa wisatawan yang berkunjung ke museum ini  juga sekaligus dapat menikmati dan melihat secara langsung panorama gunung Merapi, tepatnya di lantai dua sebelah belakang. Bahkan ditempat tersebut juga disediakan teropong bagi wisatawan yang ingin memanfaatkannya.
Sumber : http://banggawisatalokal.blogspot.com

Jumat, 21 Desember 2012

Sumur Gumuling, masjid bawah tanah di Yogyakarta


Dua ratus tahun lalu, Sumur Gumuling adalah masjidnya raja-raja Yogyakarta. Sekarang, interiornya yang cantik jadi incaran turis.
Di belakang Pasar Ngasem Yogyakarta, wisatawan akan menemukan loket masuk ke istana air Taman Sari.  Sebelum diserang Inggris dan beberapa bangunannya rubuh akibat gempa tahun 1867, Taman Sari adalah kolam pemandian yang sangat indah bagi permaisuri Yogyakarta. Sultan dan kerabat keraton kerap berkunjung untuk rekreasi dan mencari ketenangan.
Saat ini hanya beberapa bangunan di Taman Sari yang masih berdiri. Ada yang sudah dipugar, yang lain tampak seperti reruntuhan yang ditiban permukiman penduduk. Salah satu yang masih tersisa adalah Sumur Gumuling, bangunan yang terletak di sebuah lorong bawah tanah Taman Sari.
Sumur Gumuling berarsitektur Jawa-Portugis dan menyerupai teater melingkar dengan telaga buatan di tengah serta rongga pada kubahnya. Sesuai dengan namanya, gumuling yang dalam Jawa berarti berputar dalam lingkaran. Dan ada sebuah sumur di tengah bangunan.
Bangunan ini dulunya sebuah masjid bawah tanah. Filosofi di balik desainnya menarik, yakni hanya satu pintu masuk menuju Sumur Gumuling yang melambangkan bahwa manusia tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah.
Tamansari jogja
Pengunjung mengagumi arsitektur Sumur Gumuling di Taman Sari, Yogyakarta.
Sumur Gumuling tak butuh pengeras suara, sebab atapnya yang bulat menciptakan ruang berakustik baik sehingga suara imam tetap bisa terdengar. Masjid terbagi menjadi dua lantai, bawah untuk jamaah perempuan dan atas untuk jamaah laki-laki. Empat tangga mengarah ke sebuah pelataran kecil, lalu satu tangga mengarah ke lantai dua. Kelimanya merupakan simbol dari rukun Islam, dengan satu tangga naik ke lantai atas mewakili rukun kelima yang berbunyi naik haji jika mampu.
Sumur gumuling jogja
Lubang pada kubah atap Sumur Gumuling. Foto-foto Antara/Andreas Fitri Atmoko
Sekarang, masjid bersejarah ini menjadi salah satu destinasi wisata penting di Kota Gudeg Yogyakarta. Sebagian besar pengunjung menggunakannya sebagai ’latar narsis’ atau spot foto Pre Wedding.
Untuk keluar dari Sumur Gemuling, wisatawan kembali melewati lorong-lorong gelap sama seperti saat akan masuk. Sesungguhnya lorong ini panjang sekali. Masyarakat meyakini bahwa dulunya lorong tersebut tembus sampai ke daerah Pantai Selatan Jawa, lebih tepatnya di Parangtritis. Sekarang jalan tembus tersebut sudah ditutup.
Berencana pelesir ke Yogyakarta? Jangan cuma mampir Malioboro, singgahlah sebentar di Sumur Gumuling. Lokasinya tidak jauh, hanya sekitar 300 meter sebelah barat Keraton Yogyakarta. ( tiket pesawat murah/promo-online )